BAB cacing tambang (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus), dan

BAB 1.
PENDAHULUAN

1.1   
Latar Belakang

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang di dunia yang masih
menghadapi berbagai ancaman kesehatan, sebanyak 11 dari 20 penyakit tropis
terabaikan terdapat di Indonesia (Departemen Kesehatan, 2013). Ciri – ciri penyakit
tropis terabaikan adalah penyakit yang sudah ditemukan selama beberapa abad,
jumlah pasiennya tidak terlalu banyak tetapi tidak sepenuhnya hilang, dan
metode penangananya sudah diketahui secara ilmiah namun penanganannya
belum maksimal (Departemen Kesehatan,2012). Penyakit kecacingan atau infeksi
cacing merupakan salah satu penyakit tropis terabaikan yang kejadian
penyakitnya masih sering ditemukan di penduduk Indonesia. Prevalensi kecacingan
di beberapa kabupaten dan kota tahun 2012 menunjukkan angka lebih dari 20%
dengan prevalensi jumlah daerah yang tertinggi 76,67% (Direktorat Jenderal
PP&PL, 2013: 112-113). Survei dari Kementerian Kesehatan tahun 2013 pada
anak sekolah dasar di 175 kota/kabupaten menunjukkan angka 0-85% dengan
prevalensi rata-rata 28,12% (Direktorat Jenderal PP&PL, 2015: 142). Hal ini
menunjukkan jumlah kecacingan dari tahun ke tahun masih menunjukkan jumlah yang
tinggi.

Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki iklim udara yang hangat dan
lembab. Jenis iklim ini cocok untuk jenis cacing yang perkembangan dalam siklus
hidupnya memerlukan tanah untuk menjadi fase menjadi infektif atau Soil Transmitted Helminths (STH). Jenis
STH yang banyak terdapat di Indonesia adalah cacing
gelang (Ascaris lumbricoides), cacing tambang (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus), dan cacing cambuk (Trichuris
trichuria) (Direktorat Jenderal
PP&PL,2012: 9). Persebaran cacing gelang, cacing tambang, dan cacing cambuk
tersebar merata hampir di setiap pulau Indonesia. Cacing tambang memiliki prevalensi
yang tinggi pada perkebunan tanah pasir yang gembur, seperti perkebunan karet
di Sukabumi, Jawa Barat sebesar 93,1% dan perkebunan kopi di Jawa Timur sebesar
80,69% (Supali et al., 2008: 23).

Menurut World
Health Organization (WHO) pada tahun 2012 diperkirakan lebih dari 1,5 miliar orang atau
sekitar 24% populasi di dunia terinfeksi cacing yang ditularkan melalui tanah. Penyakit
kecacingan dapat terjadi pada semua golongan umur tanpa terkecuali namun
menurut Direktorat Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang, kejadian infeksi
pada anak sekolah tertinggi dibandingkan golongan umur lainnya (Direktorat Jenderal PP&PL, 2012: 2). Jumlah kasus
infeksi STH banyak terjadi di kawasan Sub-Sahara Afrika, Benua Amerika, Cina
dan Asia Timur. Lebih dari 270 juta anak usia pra sekolah dan 600 juta anak
usia sekolah tinggal di daerah tempat penularan infeksi cacing secara intensif
(Tangel et al., 2016).  WHO menyatakan, anak usia sekolah sangat
rentan terkena infeksi dari cacing tambang atau  hookworm hal ini disebabkan
karena kurangnya kesadaran kebersihan pribadi, belum sempurnanya sistem
kekebalan tubuh, dan kebiasan bermain tanah yang mungkin mengandung larva hookworm
(Ketema
et al., 2015).

Penyakit kecacingan sering dianggap
remeh oleh masyarakat karena efek yang tidak terlihat secara langsung dalam
kehidupan sehari-hari. Padahal penyakit kecacingan dapat mengurangi asupan gizi
dan menurunkan kesehatan penderita sehingga aktifitas sehari-hari menjadi
terganggu. Efek samping yang sering ditimbulkan dari infeksi STH adalah anemia,
kehilangan zat besi, serta berkurangnya penyerapan protein dan karbohidrat dari
usus (Walana et al.,
2014). Selain ganguan kesehatan, penderita infesi cacing akan kehilangan waktu
produktifnya yang dihitung berdasarkan DALYs. DALYs atau disability adjusted life years merupakan
metode perhitungan dengan memperkirakan beberapa konsekuensi dari penyakit
kecacingan seperti kondisi fisik yang lemah, angka kehadiran masuk sekolah yang
rendah, dan mudahnya penderita terinfeksi penyakit. Pada infeksi kecacingan
perkiraan kerugian yang ditimbulkan berkisar 6,4 juta hingga 22,1 juta
(Kemenkes, 2017). 

Faktor utama perpindahan telur cacing
STH ke tubuh manusia adalah kebersihan yang buruk. Kebersihan yang dimaksud
tidak hanya mengenai cara seseorang menjaga kebersihan diri, kebersihan makanan
yang dikonsumsi dan juga kebersihan lingkungan tempat tingal serta
bekerja.  Sanitasi yang buruk merupakan
salah satu faktor penyebab penularan cacing STH. Menurut WHO, sanitasi yang
buruk akan menyumbang 10% dari global burden disease
(Mara et al.,
2010). 
Sanitasi yang baik merupakan salah satu
syarat PHBS rumah tangga sehingga tercipta lingkungan yang sehat dan masyarakat
yang baik.

 Prevalensi
kejadian infeksi cacing di Kabupaten Jember masih cukup tinggi. Hasil
penelitian di SDN Seputih III Kabupaten Jember tahun 2008, ditemukan prevalensi
kecacingan sebesar 38,89%, untuk siswa laki-laki prevalensinya sebesar 57,78%
dan siswa perempuan 20% (Subagyo, H. 2008). Sedangkan penelitian di SDN
Pondokrejo 4 Kabupaten Jember menunjukkan prevalensi kecacingan sebesar 25%
dengan prevalensi infeksi cacing pada siswa laki-laki 73,33% dan prevalensi
siswa perempuan 26,67% (Nisa,K. 2010).  Menurut
data Dinas Kesehatan Jember tahun 2016, di Kabupaten Jember terdapat beberapa kasus
kecacingan dengan angka kejadian kecacingan tertinggi terdapat di Kecamatan
Gumukmas dan Sukorambi masing-masing sebesar 109 kasus, padahal letak Kecamatan
Sukorambi cukup dekat dengan pusat pemerintahan Kabupaten Jember. Hal inilah
yang mendasari penelitian ini untuk mengetahui kejadian infeksi akibat cacing
STH pada anak sekolah dasar yang dihubungkan dengan keadaan sanitasi di
lingkungan tempat tinggal anak.