A. yang ada. Peristiwa-peristiwa yang ada di dalam cerita

A.      
Latar
Belakang

Anak usia dini merupakan sekelompok
anak-anak yang berada dalam proses masa perkembangan. Pada usia tersebut para
ahli berpendapat menebutnya sebagai masa emas (Golden Age) yang
hanya terjadi satu kali dalam perkembangan kehidupan manusia. Pertumbuhan dan
perkembangan anak usia dini perlu diarahkan pada fisik, kognitif,
sosioemosional, bahasa, dan kreativitas yang seimbang sebagai peletak dasar
yang tepat guna pembentukan pribadi yang utuh.1 Dalam pendidikan anak usia
dini di Indonesia kini, kegiatan bahasa Inggris telah banyak dilakukan dan diminati
oleh para pelaku pendidikan. Hal ini mengingat pentingnya kemampuan berbahasa
Inggris sebagai alat komunikasi global. Akan tetapi, kegiatan bahasa Inggris
yang dilakukan tersebut tetaplah harus memerhatikan aspek-aspek dan
perkembangan anak-anak usia dini, dalam penelitian ini dibatasi yaitu mereka
yang berusia rentan antara 3-6 tahun. Maka dari itu, penggunaan metode yang benar
dan dengan karakteristik perkembangan anak sangatlah penting dalam kegiatan
bahasa Inggris, dan salah satu di antaranya adalah melalui sesi storytelling.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Menurut Kamus Besar Indonesia,
cerita adalah kisah, dongeng yang menggambarkan suatu kejadian atau peristiwa
secara panjang, karangan yang menyajikan terjadinya peristiwa-peristiwa yang digambarkan
dalam pertunjukan (tentang drama, film, dan sebagainya). Cerita yang digambarkan
melalui kegiatan storytelling  ini akan mengisi ingatan anak dengan berbagai
informasi termasuk nilai-nilai kehidupan dan berbagai sudut pandang yang ada.
Peristiwa-peristiwa yang ada di dalam cerita juga akan menambah pengalaman anak-anak
sehingga bisa digunakan untuk bahan referensi pemecahan masalah atau mengubah
perilaku,2 pembahasan ini berupaya menyelidiki
berbagai aspek keterampilan yang berkembang dalam diri anak-anak di saat
mengikuti kegiatan storytelling yang juga menerapkan dimana menerapkan metode
picture mapping.

Dalam pembelajaran bahasa asing,
termasuk di dalamnya bahasa Inggris, usia anak-anak merupakan masa
strategis dalam pemerolehan bahasa asing tersebut. Kemampuan anak dalam
mengakuisisi bahasa asing diyakini lebih baik dibandingkan orang dewasa.
Berdasarkan teori The Critical Period Hypothesis (CPH), masa anak-anak
adalah masa keemasan perkembangan, termasuk mereka yang mempelajari berbagai
bahasa tertentu, dimana mereka akan mampu menguasainya bahasa dengan
baik (Lenneberg dalam Brewster et al., 2002). Lebih lanjut lagi Pinter
(2006) berpendapat serupa dengan menyatakan bahwa anak-anak membutuhkan
situasi belajar yang menyenangkan dan menenangkan agar mereka mampu
lebih baik dalam penguasaan bahasa asing 
pada saat optimum tersebut anak-anak memahami berbagai bahasa
melalui konteks yang bermakna.

Di berbagai jenjang
pendidikan, buku cerita untuk anak usia dini lebih dominan memuat gambar
dibandingkan teks. Hal ini didasari oleh beberapa alasan, di antaranya anak
belum terampil membaca teks, dan gambar diharapkan sebagai salah satu dari bentuk
visualisasi dimana dapat membantu anak memahami isi di dalam buku cerita yang
disampaikan. Apalagi jika cerita tersebut dalam bahasa asing (Ananthia, 2010).
Hsiu-Chih dalam penelitian yang dilakukannya di Taiwan (2008) membuktikan bahwa
penggunaan gambar dalam buku cerita anak dalam konteks pembelajaran bahasa
Inggris sebagai bahasa asing memiliki nilai pedagogis untuk mengembangkan
kemampuan linguistik anak dalam mencerna makna dari isi di dalam cerita.
Rossiter, Derwing dan Jones (2008) juga menyatakan bahwa gambar yang ada
memberikan kesempatan pada anak untuk mengetahu beberapa kata dalam bahasa
asing. Hasil studi mereka menunjukkan fakta bahwa gambar merupakan media yang
secara efektif mampu meningkatkan keterampilan komunikasi anak yang sekaligus
merupakan salah satu aspek. Tapi, penggunaan gambar harus relevan dengan
konteks cerita, tidak menyebabkan penyimpangan nilai-nilai budaya dan tingkat
keterbacaan (kejelasan) gambar harus baik dan sesuai dengan perkembangan anak
(Rossiter, et al., 2008).3

Jenis visualisasi yang
dipakai dalam mendorong anak memahami isi cerita cukup bervariasi. Diantaranya
adalah dengan penggunaan media gambar dalam bentuk mind map. Toni Buzan
menciptakan mind map sebagai suatu kumpulan yang berkesinambungan
berbagai informasi, ide yang menunjukkan cara kerja sistem otak dalam berpikir
dan menyimpan informasi dalam setiap lobus, yang dituangkan dalam bentuk
representasi grafis (Sprenger, 2010). merepresentasikan informasi yang
diperoleh dengan sensor dan cara yang unik, sehingga membentuk sebuah sistem
pemerolehan dan penyimpanan informasi yang lengkap dan kompleks. Begitu pun
pola hubungan antar ide yang tercantum dalam sebuah mind map.

1
Aris
Priyanto, “PENGEMBANGAN KREATIVITAS PADA ANAK USIA DINI MELALUI AKTIVITAS
BERMAIN,” Jurnal Ilmiah Guru “COPE,” no. No. 2 (November 2014),
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=282938&val=464&title=PENGEMBANGAN%20KREATIVITAS%20PADA%20ANAK%20USIA%20DINI%20MELALUI%20AKTIVITAS%20BERMAIN.

2
Rita
Diah Ayuni, Siswati, Diana Rusmawati, and Siswati, “PENGARUH STORYTELLING
TERHADAP PERILAKU EMPATI ANAK,” Jurnal Psikologi Undip Vol. 12, no. No.
2 (Oktober 2013),
https://ejournal.undip.ac.id/index.php/psikologi/article/download/8832/7148.

3
Novi
Yanthi, Margaretha Sri Yuliariatiningsih, and Winti Ananthia, “METODE PICTURE
MAPPING DALAM KEGIATAN STORYTELLING: CARA UNTUK MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN ABAD
21 ANAK USIA DINI,” n.d.,
http://ejournal.upi.edu/index.php/eduhumaniora/article/download/2785/1814.